Wednesday, January 31, 2018

Desa mengembaikan Ambulan dari Bupati

Parkiran Kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jember, kemarin dipenuhi mobil ambulans desa. Mobil yang sebelumnya sempat dititipkan di masing-masing puskesmas dan puskemas pembantu (Pustu) di desa itu akhirnya harus “dikandangkan” dulu di kantor Dinkes Jember. 
Kepala Dinkes Jember dr Siti Nurul Qomariah mengaku, sebenarnya ada 195 mobil ambulans desa. Namun, yang sudah bisa beroperasi melayani masyarakat baru 40 ambulans saja. Mobil yang sudah beroperasi, merupakan mobil realisasi tahap awal.
Kata dr Nurul, sebanyak 155 mobil ambulans yang terparkir di kantornya itu masih belum layak keluar jalan, apalagi sampai melayani pasien. “Karena syarat administrasi kelengkapan mobilnya belum keluar,” jelasnya, saat menggelar press release di kantornya, kemarin.
Ratusan ambulans desa itu masih belum ada plat nomornya. Pun demikian dengan STNK yang juga belum keluar. “Selain itu, tentu juga masih perlu diuji KIR,” imbuhnya.
Proses pengurusan administrasi kelengkapan kendaraan bermotor ini butuh waktu, antara satu sampai dua bulan. Belum lagi, para calon sopir ambulans yang  juga butuh pelatihan khusus untuk mengoperasikan mobil dan kelengkapan alat kesehatan.
Dia mengakui, sebelumnya ratusan mobil ambulans itu dititipkan ke puskesmas maupun Pustu di masing-masing desa terdekat. Alasannya sederhana, supaya tidak menumpuk di parkiran Dinkes Jember.
Namun, Dinkes Jember harus kembali menarik mobil itu dari puskesmas dan pustu karena ada beberapa pihak yang salah paham. “Mobil yang kami titipkan dikira tidak mau melayani masyarakat. Padahal, memang belum waktunya beroperasi,” jelasnya.
Bukan hanya itu, ada beberapa kepala desa (Kades), sampai bermaksud mengembalikan ambulans ke Dinkes Jember. Mereka menilai, ambulans desa yang masih dititipkan itu percuma ada di desa karena belum bisa beroperasi. ”Padahal, ambulans itu memang belum boleh beroperasi,” kata dr Nurul.
Ambulans itu aset milik Dinkes Jember. Namanya memang ambulans desa. Namun, tegas dia sampaikan, ambulans itu bukan milik desa. “Tetapi yang benar, ambulans untuk melayani warga desa,” tegasnya.
Sopir ambulans juga sopir khusus atau dari pihak medis. Baginya, salah besar jika ada kades yang ingin mengemudikan mobil ambulans desa. “Apalagi, sampai ada yang menganggap mobil dinas desa,” katanya.
Fungsi ambulans desa, juga dia perjelas, hanya mengantar warga desa yang sakit ke puskesmas terdekat. Memang, juga bisa langsung mengantar pasien ke rumah sakit, namun jika ada rujukan tenaga medis. “Jenazah saja tidak boleh diangkut ambulans desa,” jelasnya.
Bupati Faida sudah membeli 12 ambulans khusus mobil jenazah. Sementara ini, 12 mobil jenazah itu dibagi terpisah. Namun, sesuai komitmen bupati, tahun 2018 bakal ada satu mobil jenazah di setiap kecamatan.

Sumber :https://www.jawapos.com/radarjember/read/2018/01/31/44866/ratusan-ambulans-ditarik-sementara-ke-kantor-dinkes

Buaya Masuk Rumah Sakit Paru Jember



Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Kabupaten Jember mengamankan satu ekor anak buaya yang ditangkap warga di Sungai Kalijompo, belakang Rumah Sakit Paru-paru, Kelurahan Jember Lor, Kecamatan Patrang, Senin (29/1/).
Buaya itu sempat dikurung dalam kurungan bambu di rumah Ahmad, salah satu warga setempat. Buaya ini memiliki panjang sekitar satu meter. "Jenis buaya muara, dan termasuk anakan, bukan berukuran dewasa" kata Dheny Mardiono, salah satu Polhut.
Satwa tersebut, menurut Dheny, dilindungi undang-undang dan tak boleh dipelihara. "Untungnya warga tahu dan sadar, lalu diserahkan. Kami berterima kasih kepada masyarakat, karena biasanya kalau menemukan seperti itu dibantai dan dibunuh," ujar Dheny.
Dia memperkirakan, buaya tersebut adalah peliharaan seseorang. "Kelihatannya buaya itu jinak. Saat kami evakuasi dari kandang Pak Ahmad ke kandang angkut kami, relatif mudah. Ini mengindikasikan bahwa satwa itu dulu dipelihara orang," ujarnya.
Informasi yang diterima Dheny, ada seseorang yang datang setelah buaya itu ditangkap dan memintanya. Namun, belakangan orang tersebut tidak datang kembali. "Buaya itu dilindungi undang-undang. Ada larangan memelihara, memiliki, mengangkut, membunuh. Dalam pasal 21 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990, ancaman pidananya lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta," ujar Dheny lagi.
Rencananya, BKSDA akan melepas-liarkan buaya tersebut. "Kami akan cek dulu apakah buaya ini perlu rehabilitasi. Seharusnya dilepas-liarkan di tempat aman. Banyak tempat aman, terutama taman nasional. Kami akan upayakan, setelah mengecek apakah dia mampu beradaptasi. Kalau tidak bisa, akan kami rehab. Ada penangkaran buaya di Batu," kata Dheny.
"Kalau masih tidak bisa, maka bisa dijadikan indukan bagi lembaga konservasi. Ada banyak lembaga konservasi di Malang, Batu, Prigen, dan lain-lain," pungkas Dheny.

Sumber :

Monday, January 29, 2018

Simpan Potensi Wisata Heritage, Candi Deres Perlu Sentuhan Pemerintah



Demi memajukan dan sebagai destinasi Wisata Cagar Budaya warisan nenek moyang Candi Deres Peninggalan kerajaan Majapahit pada kisaran tahun 1900 SM yang berada di Dusun Deres Desa Purwoasri, Kecamatan Gumukmas, Jember, pihak Kepala Desa menggelar kegiatan melukis menggandeng pihak KPJ (Komunitas Perupa Jember) yang dimotori oleh dinas pariwisata.
Selain kegiatan pada Minggu (17/12/2017) siang tersebut pihak Kepala Desa Purwoasri juga mendatangkan reog di lokasi Candi Deres yang tidak jauh dari pusat kecamatan Gumukmas berjarak kurang lebih 5 km tersebut ke lokasi candi. Dari situlah warga masyarakat sekitar datang untuk lebih mengenal dari dekat candi peninggalan raja raja terdahulu tersebut.

Mengupas sedikit perihal Tjandi Retja/Candi Deres menurut budayawan asal Kecamatan Kencong Cak Yopie “melihat sisi geografis dan ekonomi jember sendiri sangat makmur dan sebelum masa belanda sudah ada para raja yang berkelana dan salah satu nya peninggalan kerajaan majapahit adalah candi deres yang terhampar luas 7500 meter persegi dengan bangunan batu bata warna merah ukuran panjang 60 Centi lebar 20 dan tinggi 10 centi yang mulai hancur di makan zaman. Selain itu bangunan besar candi di sisi kiri kanan ada tanaman beringin tersebut dulunya sempat ditemukan 2 buah patung kuno berwajah perempuan dan lelaki., ucap budayawan tersebut.
Dari sisi lain sepengetahuan kepala Desa Purwoasri Bernama Syahuri S,H jika candi deres sampai detik ini perlu sentuhan pemerintah dalam banyak hal seperti Infrastruktur jalan dan juga perlu adanya pengamanan cagar budaya tersebut dengan membangun pagar keliling areal sekitar kurang lebih 1,5 Hektar tersebut. Dan pada hari Minggu siang ini kami sebagai kepala desa melakukan pagelaran seni reog dan melukis candi deres bersama KPJ (Komunitas Perupa Jember) yang dipelopori pihak dinas pariwisata kabupaten jember.

“Kami sebagai pihak desa sudah membangun Gapura di Candi Deres, semoga keinginan kami sebagai warga kecamatan Gumukmas dan juga gabungan Pemuda Pancasila Purwoasri lekas direalisasi untuk penyelamatkan situs warisan budaya peninggalan kerajaan tersebut,” harap Kepala Desa Syahuri.
Kepala Bidang Pariwisata kabupaten Jember Soesmiadi menuturkan “Kami pada hari ini adakan lomba melukis dari berbagai sisi keindahan candi yang menjulang ke atas di sisi kiri kanan dan rerimbunan pohon beringin yang terkesan elok dan bernuansa Magis tersebut. Semoga kedepan candi peninggalan kerajaan umat Hindu jawa ini tetap terjaga hingga sampai kapanpun ucapnya.
Juru kunci candi Deres Ibu Ella anak dari Pak Jali selaku pihak yang merawat peninggalan sejarah tersebut menuturkan sedikit tentang candi deres tersebut”candi ini adalah peningalan jaman majapahit dan pengunjung tidak diperkenankan seenaknya sendiri karena dilokasi ini masih banyak makan peningalan keluarga yang disinyalir dari kerajaan. Dan juga hingga detik ini jika pada hari Jum’at legi bisa dipastikan banyak pejiarah datang dan menginap disini., dan pengunjung juga kadang warga dari pulau lain seperti bali dan kalimantan, ujarnya.

Sumber :http://www.memontum.com/13431-simpan-potensi-wisata-heritage-candi-deres-perlu-sentuhan-pemerintah

Bupati Jember Serahkan 750 Beasiswa Mahasiswa

Bupati Jember dr Farida MMR menyerahkan beasiswa kepada 750 Mahasiswa S1/D4/D3 jember yang berlangsung di Aula PB. Sudirman Pemerintah Kabupaten Jember, Senin (29/1/2018). Acara dihadiri oleh sekitar 750 mahasiswa asal Kabupaten Jember penerima beasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan jurusan.
Secara simbolis Bupati dr Faida MMR memberikan bantuan kepada tiga mahasiswa diantaranya F Amali dari Politeknik (poltek), Della Helena Dewi dari sekolah tinggi kesehatan (STIKES )dan Audina Aulia Putri dari Universitas Universitas Negeri Jember.
Sementara itu Bupati dr Hj Faida MMR berpesan kepada mahasiswa penerima bantuan.
“Agar mengedepankan kepentingan masyatakat diatas kepentingan pribadinya,” ujarnya.
Beliau juga menugaskan kepada mahasiswa penerima beasiswa untuk mendata anak dilingkungan mereka yang termasuk kategori yatim dan yatim piatu, karena Pemerintah ingin mengetahui data yang valid keberadaan mereka (yatim-piatu), karena mereka juga membutuhkan bantuan dan perhatian dari Pemerintah Kabupaten Jember.
Bupati Faida menyatakan, “Program ini merupakan salah satu program 22 janji kerja Bupati, yang akan merealisasikan sebanyak 5000 beasiswa kepada mahasiswa asal jember, baik yang kuliah di jember maupun di luar jember,” tuturnya.
Sekarang ini sebanyak 750 penerima bantuan beasiswa, mahasiswa S1/D4/D3 yang diberikan kepada mahasiswa yang kuliah di berbagai perguruan tinggi dan sejenisnya
Beasiswa yang diterima oleh mahasiswa langsung masuk ke Rekening tabungan mahasiswa penerima bantuan dan tidak ada administrasi sedikitpun. Jadi ini lebih enak dan mahasiswa penerima bantuan beasiswa bisa terima langsung.
Bupati berpesan kepada mahasiswa yang menerima bantuan beasiswa dapat belajar dengan giat, berprestasi dan membanggakan. Jika ada mahasiswa penerima bantuan beasiswa ini kedapatan memakai Narkoba maka beasiswanya akan di cabut tanpa konsekuensi.

Sumber :http://www.memontum.com/23023-bupati-jember-serahkan-750-beasiswa-mahasiswa-s1-d4-dan-d3

Bupati Faida memulain Tanaman Kembali

Setelah tertunda beberapa tahun, komunitas Jember Berkebun yang merupakan jejaring dari Indonesia Berkebun, mulai aktif di Jember. Kehadiran komunitas ini ditandai dengan penanaman berbagai jenis sayur dan buah-buahan di areal seluas 4,8 hektare yang ada di lahan perumahan Bernady Land Slawu.
“Kami bersyukur, karena sebenarnya Jember Berkebun ini sudah lahir sejak tahun 2014, tetapi terkendala lahan. Karena itu begitu saya dihubungi oleh pihak Bernady Land, langsung saya apresiasi dan saya hubungkan dengan Jember Berkebun,” tutur Sigit Kusumawijaya, co-founder dari Indonesia Berkebun.
Penanaman perdana di lahan Jember Berkebun ini dilakukan berbarengan dengan acara Jalan Santai yang dihelat pada Minggu (28/01) pagi. Bupati Jember, dr Faida yang dijadwalkan melakukan tanam perdana, berhalangan hadir pada Minggu pagi karena ada agenda lain. Namun, Faida “menggantinya” dengan hadir pada malam harinya sebelum acara. “Senang, saya bisa menanam di hari ke-0,” kelakar Faida.
Di tengah rintik hujan, Faida melakukan penanaman perdana di lahan yang disediakan pihak pengembang Bernady land, dengan didampingi pegiat Jember Berkebun. Sebelum menanam, Faida nampak berbincang serius dengan 3 co-founder Indonesia Berkebun yang datang dari Jakarta.
“Jember Berkebun ini adalah visi besar dari anak-anak muda yang senang bergotong royong dan bersinergi. Tidak sekedar berbeda, tetapi mereka juga kreatif dan visioner,” tutur Faida.
Kehadiran Jember Berkebun yang berangkat dari inisiatif dan peran aktif warga sipil, menurut Faida sangat membantu dalam upaya Jember untuk mengejar target Piala Adipura 2018. Karena itu, Faida berharap gerakan ini bisa tetap konsisten tidak sekedar menghijaukan lahan, tetapi terkait dengan produktivitas lahan “Salah satu poin penilaiannya kan partisipasi masyarakat, itu sangat signifikan,” lanjut Faida.
Butuh Konsistensi
Sejak pertama kali lahir pada Oktober 2010, komunitas gerakan Indonesia berkebun sudah berkembang pesat di berbagai kota di Indonesia. “Dari Aceh sampai Papua. Jember Berkebun ini adalah jejaring kami yang ke 48,” tutur Sigit Kusumawijaya.
Gerakan ini berangkat dari gagasan arsitek muda Ridwan Kamil yang kemudian terpilih menjadi Walikota Bandung. Menggunakan media sosial terutama twitter dan instagram, gerakan ini banyak memikat kaum urban yang menjadikan berkebun sebagai kesenangan yang sekaligus berdampak ekologis.
Sigit berharap, gagasan yang dibawa oleh komunitas Indonesia Berkebun ini menjadi upaya edukasi masyarakat untuk memulai upaya ketahanan pangan. “Tidak hanya gerakannya yang kita sampaikan, tetapi harapan kami juga pesannya bisa tersampaikan kepada masyarakat. Alangkah baiknya jika kita memulai kemandirian pangan dari lingkungan keluarga kita,” tutur pria yang juga berprofesi sebagai arsitek ini.
Beberapa jenis tanaman sayur dan buah yang ditanam di perumahan Bernady Land Slawu antara lain Jambu Kristal, Mangga Manalagi, Srikoyo Jumbo dan Jambu Merah. “Tantangan kita ke depan adalah konsistensi dan regenerasi dari gerakan ini,” sambung Sigit.
Tidak hanya di lahan perumahan, gerakan ini juga membuka diri untuk bekerjasama dengan berbagai pihak. “Kemarin di salah satu kota, juga ada jejaring Indonesia Berkebun yang menjalin sinergi dengan pihak Lapas, sehingga dihasilkan produktivitas tanaman sayur dan buah-buahan,” tutur Umar Samawi Tashar, koordinator Jember Berkebun
Gagasan Indonesia Berkebun ini, rupanya mendapat sambutan hangat dari masyarakat Jember. Tidak hanya di dunia nyata dalam acara Jalan Sehat kemarin, di dunia maya, gagasan ini mendapat juga antusiasme. Tanda pagar (tagar) “#JemberBerkebun” sepanjang hari kemarin berseliweran di lini masa beberapa platform media sosial.

sumber : https://www.jawapos.com/radarjember/read/2018/01/29/44455/bupati-faida-tanam-di-hari-ke-0

Sunday, January 28, 2018

Dispendik Jember Akui Verifikasi Data Guru dan Pegawai Honorer Lambat




Jember (beritajatim.com)--Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, Jawa Timur, Muhammad Ghozali, mengakui verifikasi data guru dan pegawai honorer (guru tidak tetap dan pegawai tidak tetap atau GTT-PTT) berjalan lambat.

"Begini. Kalau cuma sekadar mengeluarkan SK (Surat Keputusan): NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan), tempat tanggal lahir, gampang itu. Tapi yang dimaui Ibu (Bupati) itu mendalam," kata Ghozali.

Menurut Ghozali, Bupati Faida menginginkan pendataan tanggal penerimaan surat keputusan sebagai guru dan pegawai honorer, termasuk SK terakhir.



"Jadi, terpantau semua, (termasuk apakah) K2 atau tidak. Ibu (Faida) detail sampai begitu. Saya tidak berpikir sampai ke sana," katanya.

Keinginan memenuhi keterangan detail itu yang membuat Dispendik Jember terus mencari data tersebut. Bupati Faida, menurut Ghozali, meminta bukti-bukti dan bahkan berkali-kali memberikan tenggat waktu. "(Bupati bertanya) data itu Anda kirim ke mana? Anda kirim ke Polres atau ke penjara? Begitu (bupati berkata sambil) guyonan," katanya dalam bahasa Jawa.

Ghozali mengatakan Bupati Faida ingin data yang sempurna. "Jadi Ibu membikin keputusan itu tidak salah. Tapi memang itu perlu waktu," katanya.

Setelah data terkumpul dan disodorkan ke bupati, Ghozali kembali mendapat pertanyaan. "Pak Ghozali, sudah berapa bulan? Berapa tahun kira-kira Anda menyelesaikan itu. Terus Anda tahu dari mana, kalau guru di SD X sudah penuh, lalu ada SD yang kurang (kekurangan guru)?" tanya Bupati Faida sebagaimana ditirukan Ghozali dalam bahasa Jawa.

Ghozali menyebut Bupati Faida berpikir dengan nalar keibuan. "Dalam pemikirannya, sampai ke sana pemikirannya (bupati)," katanya.

Data tersebut dibutuhkan sebagai dasar dikeluarkannya surat tugas untuk para GTT dan PTT. Tanpa ada surat tugas dari bupati, maka GTT dan PTT tidak bisa menerima honor yang dialokasikan dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Gara-gara belum keluarnya surat tugas itu, sejumlah guru dan pegawai honorer di lingkungan Dinas Pendidikan Jember sempat melakukan aksi mogok kerja beberapa bulan lalu.

Sumber : http://beritajatim.com/politik_pemerintahan/319840/dispendik_jember_akui_verifikasi_data_guru_dan_pegawai_honorer_lambat.html

pembubaran UPTD Oleh Bupati Jember


JEMBER,  - Kebijakan Bupati Jember yang mempunyai rencana akan membubarkan UPTD Dinas Pendidikan di setiap kecamatan menuai Pro kontra dari berbagai kalangan.
Seperti yang disampaikan Ketua PGRI Jember, Supriyono  saat dikonfirmasi suarajatimpost.com melalui sambungan selulernya, Sabtu (27/01/2018) malam.

Menurutnya, kebijakan Bupati Jember mengacu pada peraturan PERMENDAGRI No. 12 tahun 2017 pada pasal 22 terhitung 29 Januari  2018 maka tugas (Unit Pelaksana Tekhnis Dinas) UPTD Pendidikan dialihkan ke sekolah masing-masing.
“Kebijakan tersebut akan sangat berpengaruh kepada kondusifitas dari sekolah itu sendiri. Kita tidak melihat kepada kepentingannya, terlepas UPTD itu bagus apa tidak, tetapi kita lihat jumlah lembaga Sekolah Dasar (SD) atau Taman Kanak-kanak (TK) disetiap kecamatan sangat banyak,” paparnya, Sabtu (27/01/2018) siang.
Kata Supriyono, tidak semua sekolah itu memiliki Tata Usaha (TU) dan sumber daya yang mampu untuk mengurusi bidang itu.
“Ketika UPTD kecamatan dibubarkan, mau tidak mau sekolah itu harus mampu menggantikan peran di sekolah masing-masing, sedangkan setiap lembaga tidak semua memiliki stake holder yang siap,” paparnya.
Dirinya mencontohkan, terkait pengurusan kenaikan pangkat dan persoalan lain yang menyangkut persoalan teknis akan berduyun-duyun ke Dinas Kabupaten.
“Ini kami prediksi akan terjadi kesulitan yang sangat luar biasa.  Apalagi ini tersentral kepada satu titik, tentu akan sangat merepotkan, Jember ini masih belum siap untuk itu,” ujarnya.
“Sebenarnya tergantung kebijakan kepala daerah masing-masing UPTD itu mau ditiadakan apa tidak, karena ada pasal lain yang menyebutkan itu. Jika memang terpaksa diterapkan, siapkan dulu matang SDM nya baru dibubarkan,” imbuhnya.
Sementara Pengamat Pendidikan Kabupaten Jember, Lukman Hakim justru mendukung kebijakan dan langkah bupati.
"Langkah bupati sudah sesuai peraturan. Tinggal sekarang bagaimana meningkatkan peran dan fungsi korwas kecamatan," paparnya.
Selain itu, lanjut dia, profesionalisme dan kinerja operator sekolah harus diimbangi pula meningkatkan kesehahteraannya, dengan begitu persoalan akan teratasi semua.
"Yang paling pokok kompetensi dan kesejahteraan operatornya juga harus terjamin. Stake holder di Dinas Pendidikan juga haris ditambahi berikut fasilitasnya harus lengkap, karena memang tugas dan tanggungjawabnya berat," pungkasnya.

Sumber :http://www.suarajatimpost.com/read/12122/20180128/190340/rencana-pembubaran-uptd-pendidikan-kecamatan-oleh-bupati-jember-menuai-kotroversi/

Saturday, January 27, 2018

Balita tewas lagi

Jember Hari Ini – Gara-gara mandi di sungai saat hujan, balita bernama Muhammad Bima (4) ditemukan tewas di pusaran air saluran irigasi di Dusun Bunder Desa Sumberpinang Kecamatan Pakusari, Kamis (18/1/2018) sore.

Menurut Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember, Widi Prasetyo, korban terseret arus sungai saat mandi di sungai kecil dekat rumahnya. Sekitar jam 2 siang, korban berpamitan kepada ibunya mandi di sungai kecil, dekat rumahnya. Ibu korban sempat melarang karena  saat itu hujan deras. Apalagi ayah korban tidak berada di rumah karena masih bekerja membajak sawah. Namun saat ibunya membersihkan rumah, tanpa sepengetahuan sang ibu, korban nekat mandi. Setelah selesai membersihkan rumah, sang ibu berusaha mencari anaknya baru berumur 4 tahun tersebut. Ibu korban bersama warga sekitar kemudian berusaha mencari dengan menyusui sungai karena sebelumnya korban pamit mandi di sungai. Korban akhirnya  ditemukan meninggal dunia di pusaran air saluran irigasi sekitar 400 meter dari rumahnya. Widi menghimbau masyarakat yang memiliki anak kecil atau masih balita agar selalu waspada saat hujan turun, terutama warga yang tinggal di tepi aliran sungai agar melarang anaknya mandi di sungai karena sangat berbahaya.

Widi menambahkan, dalam 4 hari terakhir sudah ada 5 warga hilang terseret arus. Tiga orang korban ditemukan meninggal dunia, sementara 2 korban hingga saat ini belum ditemukan. Korban terseret arus sungai yang ditemukan meninggal dunia antara lain, Sulasih (53) warga Desa Ambulu Kecamatan Ambulu, Mujiono (53) warga Desa Kasian Kecamatan Puger dan Muhammad Bima (4) warga Desa Sumberpinang Pakusari.

Sumber : http://www.prosalinaradio.com/2018/01/19/balita-4-tahun-warga-pakusari-tewas-terseret-arus-sungai-dekat-rumahnya/

GTT PTT jember masih perlu do'a

Jember Hari Ini – Dinas Pendidikan Jember belum bisa menyelesaikan verifikasi Guru Tidak Tetap (GTT) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT). Proses verifikasi sangat lambat karena ada permintaan Bupati  Jember, Faida, terkait syarat proses verifikasi data GTT-PTT.

Demikian pengakuan Plt Kepala Dinas Pendidikan Jember, Imam Ghozali, kepada sejumlah wartawan, Sabtu pagi. Ghozali menjelaskan, Bupati Faida tidak hanya meminta data Guru Tidak Tetap dan Pegawai Tidak Tetap, tetapi harus detail lengkap dengan bukti SK. Akibatnya proses verifikasi sangat lama. Ghozali mengaku sudah berkali-kali dipanggil Bupati Faida gara-gara data verifikasi belum selesai. Dinas Pendidikan terus menyempurnakan data verifikasi agar Bupati Faida tidak salah mengambil kebijakan.

Diberitakan sebelumnya, meski sudah 4 bulan menunggu, belum ada kejelasan kapan Bupati Jember, Faida, menyerahkan SK penugasan Guru Tidak Tetap dan Pegawai Tidak Tetap. Padahal SK tersebut sangat dibutuhkan oleh GTT-PTT karena selain menjadi syarat untuk mencairkan honor yang bersumber dari dana BOS, SK juga digunakan untuk mengurus sertifikasi.

Sumber : http://www.prosalinaradio.com/2018/01/27/dispendik-jember-belum-selesaikan-verifikasi-gtt-ptt/

Cerita ketika ambulan menjadi pengangkut nasi

Jember Hari Ini – Kepala Dinas Kesehatan Jember, Siti Nurul Qomariah, akhirnya angkat bicara terkait ambulans desa yang  digunakan mengangkut nasi kotak. Foto ambulans desa itu belakangan beredar di masyarakat dan menjadi viral di media sosial karena  ambulans digunakan tidak semestinya.

Kepada wartawan, Nurul sempat enggan menjelaskan terkait ambulans bergambar Bupati Jember tersebut karena kalau bicara apa adanya, dikhawatirkan menjadi fitnah. Ambulans desa itu sebenarnya diletakkan di puskesmas, namun menurut Nurul, kemungkinannya sedang dipinjam oleh desa untuk kebutuhan sosial. Kebetulan ambulans desa itu sedang tidak dipegang oleh pengemudi yang ditunjuk dan kepala puskesmas segan menolak sehingga dipinjamkan.

Diberitakan sebelumnya, Dinas Kesehatan Jember menarik kembali 155 ambulans desa yang belum memiliki kelengkapan surat tanda nomor kendaraan dan plat nomor. Sesuai rencana, dinas kesehatan akan kembali mensosialisasikan petunjuk teknis penggunaan ambulans desa, kepada pemerintah desa setempat.

Sumber: http://www.prosalinaradio.com/2018/01/27/kepala-dinkes-tegaskan-ambulans-desa-angkut-nasi-kotak-bukan-dari-dinkes/

Jember paling telat dari pada kabupaten lainnya

Pemerintah Provinsi Jawa Timur berharap, segera ada jalan tengah untuk APBD Jember,” kata Syaifullah Yusuf, wakil Gubernur Jawa Timur, saat kunjungan di Sekretariat GP Ansor Jember.

Gus Ipul –panggilan akrabnya– menuturkan, pihaknya menyayangkan kondisi Jember yang sampai kemarin urusan APBD belum klir ini.


Padahal, diakuinya, perbedaan pandangan kepala daerah dengan DPRD setempat adalah hal yang biasa terjadi di sejumlah daerah. Namun, biasanya hanya terjadi kemunduran atau molor jadwal penetapannya saja.

Namun, yang terjadi di Jember malah hingga hari ini belum jelas nasib APBD-nya, karena Kebijakan Umum Anggaran Penggunaan Plafon Anggaran Sementara (KUAPPAS) belum mendapatkan persetujuan bersama.

Diakuinya, banyak kabupaten/kota di Jawa Timur yang terlambat melakukan pembahasan APBD. Tetapi tidak sampai masuk tahun anggaran berikutnya. “APBD tahun 2018 ini kan dibahas tahun 2017. Ya ada mundur-mundur, tapi tidak sampai ke tahun 2018,” ungkap Gus Ipul.

Oleh karena itu, pihaknya prihatin jika APBD Jember belum ditetapkan. “Saya prihatin ya, sangat prihatin. Ada APBD tidak bisa ditetapkan. Antara eksekutif dengan legislatif belum bisa kompromi,” jelas Gus Ipul.

Seharusnya, kedua belah pihak ini bisa duduk bersama untuk membicarakan APBD Jember 2018 ini, sehingga bisa segera ditetapkan dan dilaksanakan untuk pembangunan selama tahun 2018 ini. “Ini adalah hal yang mungkin pertama kali di Jawa Timur (APBD belum ditetapkan). Dampaknya tentu kepada rakyat,” jelasnya. Pasalnya, hal ini semestinya sejumlah prioritas pembangunan mendapatkan perhatian dan mendapatkan program, akhirnya terhambat dan tidak bisa dilaksanakan oleh pemerintah daerah.

Untuk itu, lanjut Gus Ipul, pihaknya mendorong agar ada kompromi dan kesepakatan-kesepakatan. “Harus ada musyawarah yang bisa menjadi jalan tengah dari perbedaan yang ada. Sayangnya, ini belum bisa diwujudkan sampai sekarang,” jelas Gus Ipul.

Tentunya, dalam persoalan ini, kata Gus Ipul, leader-nya tetap pada tangan eksekutif, dalam hal ini bupati. Dia berharap bupati bisa mengambil langkah-langkah terutama mengambil jalan tengah, mengakomodasi maupun bisa jadi menolak usulan dari DPRD.

“Tapi tidak semua (usulan DPRD) bisa ditolak. Karena dewan juga mewakili pemilih,” jelasnya. Dirinya mengatakan jika DPRD itu berhak memberikan usulan karena juga mewakili pemilih.

“Dewan itu juga menjadi bagian dari pemerintah kabupaten, tidak terpisah. Satu tubuh tidak terpisah,” ungkapnya. Pada kesempatan itu, Gus Ipul menegaskan bahwa Pemprov Jatim sangat serius untuk menyelesaikan persoalan di Jember. Salah satu bentuk keseriusan itu dengan dikeluarkannya SK Peraturan Kepala Daerah (Perkada) oleh Gubernur Jawa Timur.

“Itu (SK Perkada) satu-satunya selama saya menjadi wakil gubernur,” ungkap Gus Ipul. Sehingga, ini mungkin menjadi sejarah bagi pemerintahan Pakde Karwo-Gus Ipul selama memimpin Jawa Timur selama 10 tahun terakhir. Karena itu, dirinya pun menyayangkan sampai terjadi seperti ini. Terkait persoalan itu, menurut Gus Ipul, adalah tanggung jawab bersama untuk segera diselesaikan.

Sekadar tambahan informasi, meskipun ada peraturan kepala daerah yang sudah diberikan SK oleh Gubernur Jawa Timur, namun sebenarnya masih ada kesempatan untuk Jember memiliki APBD 2018. Di mana Pemprov dan pusat memberikan waktu hingga akhir bulan Februari 2018 mendatang.

Namun, ternyata hingga kemarin untuk APBD Jember ini belum jelas pembahasannya. Pasalnya, KUAPPAS APBD 2018 juga masih belum jelas kesepakatan antara Pemkab dan DPRD Jember. Gubernur Soekarwo berjanji kepada Komisi A DPRD Jatim untuk segera memediasi eksekutif dan legislatif di Jember.

Namun, hingga saat ini jadwal pertemuan mediasi tersebut belum jelas. Oleh karena itu, nasibnya pun tidak jelas meskipun sudah memasuki tahun 2018.

Durian di tukar motor

Jember - Berbagai macam cara dilakukan seseorang melakukan kejahatan. Seperti yang dilakukan Frengki Purnama (26), warga Dusun Congapan, Desa Karangbayat, Kecamatan Sumberbaru. Dia berhasil membawa kabur motor setelah sang pemilik diberi sebuah durian. Beruntung polisi berhasil membekuk pelaku beserta barang buktinya.

Kapolsek Sumberbaru AKP Subagiyo, membenarkan penangkapan itu. Menurut dia, sepeda motor yang digelapkan Frengki belum sampai dijual. "Jadi tersangka kita tangkap bersama barang bukti sepeda motor milik korban. Akibat kejadian itu, korban mengalami kerugian sekitar Rp 4 juta," kata Subagiyo, saat dihubungi, Sabtu (27/1/2018).

Informasi di lapangan, korban penggelapan itu adalah Abdus Salam (20). Pada hari Rabu (24/1) sekitar pukul 18.00 WIB, Abdus Salam baru pulang dari bengkel mengendarai sepeda motor Yamaha Jupiter. Tiba di sebuah jalan, dia bertemu dengan Frengki. Mereka memang sudah saling kenal. Kemudian, Frengki menumpang motor Abdus Salam.

Dalam perjalanan, Frengki minta diantar ke rumah temannya. Frengki menjanjikan akan memberi durian kepada Abdus Salam jika diantar ke rumah temannya itu. Abdus Salam pun mengiyakan.

Sesampai di tempat yang dituju, Frengki turun dari motor dan meminta Abdus Salam menunggu. Tak lama, Frengki ke luar dari rumah temannya sambil membawa durian. Selanjutnya durian diberikan ke Abdus Salam sesuai yang dijanjikan.

Usai memberi durian, Frengki kembali meminta diantar ke rumah seseorang dengan alasan menagih utang. Karena percaya, Abdus Salam mengantar Frengki ke rumah orang yang dimaksud.

Namun di tengah perjalanan, Fengki meminta Abdus Salam untuk menghentikan motor. Abdus Salam diminta menunggu di jalan. Frengki mengaku tak enak saat menagih utang mengajak Abdus Salam. Karena masih percaya, Abdus Salam pun mengiyakan. Kemudian, Frengki pergi sambil membawa sepeda motor Abdus Salam.

Namun setelah ditunggu cukup lama, Frengki tak kunjung datang. Bahkan, hingga berjam-jam, pemuda itu tak tampak batang hidungnya. Yakin bahwa dirinya telah ditipu, Abdus Salam pulang dan melaporkan kejadian itu orang tuanya. Selanjutnya, kasus itu pun dilaporkan ke Polsek Sumberbaru.

Menindaklanjuti laporan tersebut, polisi langsung melakukan penyelidikan. Tak butuh waktu lama, Frengki berhasil ditangkap. Barang bukti motor milik Abdus Salam juga berhasil diamankan.

Mantan wakil bupati jember turun gunung

Mantan Wakil Bupati Jember Kusen Andalas turun gunung memimpin tim pemenangan pasangan Gus Ipul dan Puti Guntur Soekarno di Pilgub Jatim. Pria yang pernah memimpin PDIP Jember ini berambisi memenangkan Gus Ipul di Jember.
Kusen tidak sendirian. Dia menggandeng beberapa tokoh sampai pengusaha lokal Jember. Bahkan, pemilik kolam renang Dira Park Ambulu, Haji Ponimin Tohari, digandeng jadi bendahara tim pemenangannya. Tak heran, peresmian tim pemenangannya pun digelar di Dira Park Ambulu, Kamis (25/1) kemarin.
Wakil Ketua DPRD Jember dari Fraksi PDIP NNP Martini juga dinobatkan jadi sekretaris pemenangan Gus Ipul – Puti. Selain Martini, loyalis Kusen Andalas yang juga Ketua Komisi B DPRD Jember, Bukri ikut bergabung jadi Wakil Ketua Relawan Sedulur Kabeh Makmur.
Selain politisi PDIP, ada juga nama anggota DPRD Jember Fraksi PKB, Imam Suyuti. Nama Imam cukup mengakar di Ambulu. Selain dia warga asli Ambulu, Imam dicap sebagai kader Nahdliyin tulen. Sehingga, mereka optimistis Gus Ipul menang mutlak di Ambulu dan kecamatan lainnya.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember di lokasi peresmian relawan pemenangan pimpinan Kusen Andalas, ada juga Ketua DPC PKB Jember Miftahul Ulum bersama Sekretaris DPC PKB Jember Ayub Junaedi. “Kami sudah membentuk relawan di semua kecamatan se-Jember,” kata Kusen.
Mantan Wabup Jember dua periode itu pun optimistis, Pasangan Gus Ipul – Puti bisa menang besar di Jember. Sebab katanya, masyarakat banyak yang jatuh hati dengan Gus Ipul yang Nahdliyin dan Puti yang tak lain cucu Soekarno. “Gus Ipul dan Mbak Puti pasangan ideal,” tuturnya.
Gus Ipul, mengaku bersyukur bisa berpasangan dengan Puti. Memang kata Gus Ipul, dia baru empat kali bertemu Puti. Pertemuannya pun berlangsung pendek. “Tapi kami langsung cocok,” akunya. Sebab, kata Gus Ipul, dia dan Puti memiliki visi dan misi yang sama membangun Jember.
Judul lagu Kabeh Sedulur Kabeh Makmur yang dipopulerkan Via Vallen bukan sekadar lagu untuk menghibur pendukungnya. Sebab dalam lagu itu ada makna tidak boleh ada kesenjangan kemiskinan di Jatim. “Kabeh sedulur di Jatim harus sama-sama makmur,” terangnya.
Bersama Puti, Gus Ipul memilih jargon Perubahan Berkelanjutan. Menurut Gus Ipul yang sudah dua kali jadi Wakil Gubernur Jatim, jargon politik itu tak lain ikhtiar konkrit yang berangkat dari capaian selama menjadi Wagub Jatim. “Ada program yang harus dipertahankan, diperbaiki, atau bahkan diubah,” ujarnya.
Salah satu program yang perlu ditonjolkan, seperti Desa Cerdas. Sebuah pelayanan publik menggunakan teknologi mutakhir yang berbasis di desa. “Nantinya, mimpi besar saya dan Mbak Puti, perizinan di Pemprov bisa langsung diakses dari desa. Sehingga, tak perlu lagi datang ke Surabaya,” janjinya.
Kedatangan Gus Ipul di kolam renang Dira Park Ambulu disambut para pengunjung untuk berswafoto. Kolam renang itu memang sangat ramai siang kemarin. Terlebih, peresmian relawan Gus Ipul bareng Kusen Andalas bersamaan dengan Festival Anak Sholeh Jember

Sumber :https://www.jawapos.com/radarjember/read/2018/01/27/43808/kusen-andalas-turun-gunung

Kongres becak jember peruh rasa kekecewaan

Acara Kongres Becak yang diadakan oleh Pemkab Jember pada  awal bulan Desember 2017 lalu, menyisakan kekecewaan dan tanda tanya besar bagi mereka yang pernah mengikutinya.
Pasalnya, sampai saat ini masih banyak peserta yang hingga kini belum mendapatkan uang seperti yang dijanjikan saat kongres tersebut.
Supriyanto, alias Kancil asal Kencong, yang biasa mangkal di sekitar jalan KH Sidik,Talangsari mengaku jika saat kongres lalu dia datang sejak pagi hingga usai.
"Saya dapat undangan dari orang di warung kopi disuruh ke alun-alun bawa KTP.Sampai alun-alun sudah banyak (pengayuh becak) yang datang dari pagi, hanya mendapat makanan nasi kotak,"kata Kancil, Jumat(26/1/2018) siang.
Tidak hanya itu, dari pagi jam 7 sampai sore saya hanya dapat nasi kotak saja. Banyak yang lain dapat rekening, saya tidak dapat,"katanya.
Menurut Kancil,  dirinya dijanjikan akan dapat rekening di kemudian hari. Namun, sampai saat ini masih belum juga mendapatkan apa yang dijanjikan.
"Saya disuruh ngurusi di Dishub Jember,  tapi sampai sana ndak dapat.Katanya (staf Dishub) datanya ada.Rekening akan diantarkan oleh Tim Dishub akan ke tempat mangkal saya.Tapi nyatanya sampai sekarang tidak ada itu,"keluh Kancil.
Lain lagi dengan Sanadi, dirinya lebih bernasib baik. Dia mengaku datang ke alun-alun dan dapat rekening dari Bupati Faida.
"Saya datang pagi sampai sore. Dapat rekening isinya 47 ribu. Sudah saya ambil di Bank Jatim,"jelasnya.
Namun demikian, Sanadi mengaku rugi setelah seharian hanya mendapat uang 47 ribu."Saya rugi seharian dapat segitu. Penghasilan becak kan tidak tentu tapi biasanya bisa lebih Rp 50 ribu kalo pas ramai bisa Rp 75 ribu,"katanya.
Ditulis dibeberapa media, Kongres Becak ini digelar oleh Pemkab Jember dengan mengundang hampir 2000 orang pengayuh becak.
Setiap orang dijanjikan mendapatkan uang 50 ribu namun dalam bentuk rekening tabungan. Namun, realisasinya tidak semua mendapatkan.

Sumber :http://www.suarajatimpost.com/read/12110/20180127/103303/pasca-kongres-becak-di-jember-warga-kencong-ini-kecewa/

Jember peringkat -3

Jember Hari Ini – Kabupaten Jember masih menduduki peringkat ketiga angka kasus perceraian terbanyak di Indonesia setelah Cimahi dan Malang. Jumlah kasus selama tahun 2017 juga lebih banyak dibanding tahun sebelumnya.
Humas Pengadilan Agama Kabupaten Jember, Anwar, menyebutkan angka kasus perceraain di Jember sekitar 8 ribuan. Jumlah itu terus bertahan pada setiap tahunnya dengan selisih yang tidak terlalu signifikan. Bahkan, karena banyaknya kasus perceraian yang ditangani Pengadilan Agama Jember tahun ini masih tersisa hampir 700 kasus yang belum selesai hingga putusan hukum tetap. Menurutnya, pemicu paling banyak penyebab terjadinya perceraain di Jember adalah faktor ekonomi keluarga yang umumnya mempunyai penghasilan lebih kecil dibanding kebutuhan hariannya. Faktor berikutnya karena kasus cemburu buta yang disebabkan karena aktifitas media sosial dan usia yang belum matang serta adanya campur tangan pihak ketiga.
Sementara kasus perceraain yang disebabkan karena terjadinya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) hanya beberapa saja, itupun tambah Anwar karena dipicu oleh beberapa faktor ekonomi, cemburu maupun pihak ketiga tersebut.

Sumber:http://www.prosalinaradio.com/2018/01/19/jember-peringkat-ketiga-angka-kasus-perceraian-terbanyak-di-indonesia/

Tak mau melayani suami istri babak belur

Jember Hari Ini – Diduga karena istrinya menolak berhubungan intim, MT (35) warga Desa Menampu Kecamatan Gumukmas nekat menganiaya istrinya.
Menurut Kapolsek Gumukmas, AKP Dono Sugiarto, kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) ini terjadi Minggu, 21 Januari lalu sekitar jam 3 sore. Korban yang sudah lama pisah ranjang dengan tersangka MT berjalan-jalan bersama teman laki-laki ke kawasan Desa Menampu  Gumukmas. Melihat istrinya bersama laki-laki yang tidak dikenal,  tersangka kemudian menyeret korban ke rumah tersangka. Saat korban menolak ajakan berhubungan intim, tersangka MT marah kemudian menganiaya dan mencakar korban. Korban kemudian melaporkan kasus penganiayaan tersebut ke Mapolsek Gumukmas. Berdasarkan laporan korban yang dikuatkan dengan keterangan saksi serta hasil visum dokter, tersangka akhirnya ditangkap polisi. Tersangka MT diduga kuat melakukan tindak pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).  Meski kepolisian berusaha melakukan mediasi, namun korban dan keluarganya menghendaki proses hukum kasus tersebut dilanjutkan.
Hingga Kamis siang, tersangka masih menjalani penyidikan dan ditahan di Mapolsek Gumukmas. Tersangka dijerat dengan pasal  tindak pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga sesuai pasal 44 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.


Sumber :http://www.prosalinaradio.com/2018/01/25/diduga-melakukan-kdrt-warga-menampu-gumukmas-dibekuk-polisi/

Penipuan terjadi di jember

Jember Hari Ini – Diduga melakukan penipuan dan penggelapan, FP (26) warga Desa Karangbayat Kecamatan Sumberbaru dibekuk polisi. Tersangka menipu Abdus Salam, warga Desa Gelang Kecamatan Sumberbaru dengan berpura-pura meminta tolong mengantar mengambil buah durian dan menagih hutang. Korban percaya dengan alasan tersangka dan membiarkan tersangka mengendarai sepeda motor miliknya untuk menagih hutang. Kasus tersebut terungkap menyusul laporan ibu korban, Hitija.
Menurut Kapolsek Sumberbaru, AKP Subagio, kasus dugaan penipuan dan penggelapan sepeda motor terjadi Rabu sore 24 Januari lalu. Saat korban pulang dari bengkel mengendarai sepeda motor, dia bertemu FP yang meminta tumpangan. Karena perjalanan searah ke Dusun Lanasan dekat rumah korban, Abdus Salam memberi tumpangan. Namun dalam perjalanan, FP meminta tolong diantar ke rumah temannya yang akan memberikan buah durian. Setelah mengambil buah durian, FP meminta diantar lagi ke rumah seseorang dengan alasan menagih uang. Saat akan menagih hutang tersebut, tersangka meminta Abdus Salam turun dari sepedanya dan menunggu di jalan dengan alasan tidak enak menagih hutang bersama temannya. Korbanpun turun sambil menenteng buah durian. Sementara sepeda motor milik korban dipinjam tersangka. Namun setelah menguasai sepeda motor, tersangka justru melarikan diri. Kasus tersebut selanjutnya dilaporkan ke Mapolsek Sumberbaru. Tidak sampai 1 kali 24 jam, tersangka berhasil ditangkap polisi. Modus penipuan dilakukan dengan berpura-pura bersikap baik dan meminta tolong mengantar ke rumah seseorang, kemudian sepeda motor korban dibawa kabur. Tersangka dijerat dengan pasal pasal 372 jo 378 KUHP tentang penipuan dan penggelapan, dengan ancaman hukuman maksimal 4 tahun penjara.

Sumber:http://www.prosalinaradio.com/2018/01/26/diduga-melakukan-penipuan-dan-penggelapan-warga-sumberbaru-dibekuk-polisi/

Listrik merengkut korban warga jember

-polisi/
Jember Hari Ini – Karyawan toko warga Jalan Kenanga Kecamatan Kaliwates bernama Abdul Ghofar tewas tersengat aliran listrik saat bekerja membenahi atap rumah warga  Jalan Manggar Kelurahan Slawu Kecamatan Patrang, Jumat siang.
Menurut Kapolsek Patrang, AKP Mahrobi  Hasan, korban yang aslinya lahir di Kabupaten Bangkalan ini tersengat listrik saat membenahi atap rumah Abdul Muhid. Korban diketahui sedang mengecat tembok dilantai dua rumah. Menurut Mahrobi, korban membenahi atap bersama temannya, Hermawan Yulianto, warga Jalan Kenanga-Kaliwates. Beberapa saat kemudian  Hermawan Yulianto mendengar suara teriakan korban dari atas atap rumah. Ternyata korban dalam keadaan terlentang di atap rumah bersander ke tiang listrik. Menurut Mahrobi, korban diduga tersengat aliran listrik yang berjarak beberapa meter dari atap rumah tersebut. Korban tidak sadar bahwa ada kabel listrik tegangan tinggi, berada di dekat kepalanya. Korban menjerit dan tewas seketika di atas atap rumah tersebut.
Mahrobi menambahkan, menyusul peristiwa tewasnya korban, anggota Polsek Patrang langsung mendatangi lokasi dan mengevakuasi korban dari atap rumah. Korban sudah berada di kamar mayat RSD dr. Soebandi Jember untuk proses visum

Sumber:http://www.prosalinaradio.com/2018/01/26/karyawan-toko-warga-kaliwates-tewas-tersengat-aliran-listrik-membenahi-atap-rumah-warga-patrang/

download mde siskeudes

 https://drive.google.com/file/d/1H6GJBIAaeR6qyPCQ0lozPmxQsKa24xFV/view?usp=sharing